Potensi Krisis Ekonomi Akibat Covid-19

Krisis ekonomi adalah bagian dari siklus perekonomian yang tidak dapat dihindarkan. Sebuah negara dapat dikatakan mengalami krisis ekonomi bila pertumbuhan ekonominya di bawah 2% year to year. Secara teoritis krisis ekonomi dapat dipelajari dan indikasinya dapat diketahui, tapi nyatanya sangat sulit untuk mengantisipasinya. Salah satu alasannya adalah pemicunya yang kerap tak terduga. 

 

Setelah krisis ekonomi hebat pada 2007-2010 yang disebabkan oleh subprime mortgage di Amerika Serikat dan guncangan ekonomi kecil di beberapa negara dalam kurung waktu 2014-2015, ekonomi dunia kembali dihebohkan dengan potensi krisis besar pada awal tahun 2020. Penyebabnya kali ini cukup berbeda dari krisis - krisis sebelumnya, yakni sebuah pandemi wabah virus. Mengutip dari CNBC, analis memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2020 hanya sebesar 0,7%. Masih berdasarkan sumber yang sama, pasar harus bersiap-siap menghadapi krisis yang diprediksi akan lebih parah daripada krisis 2007-2010 dan menjadi yang paling parah sejak the Great Depression pada tahun 1929.

 

Ada beberapa alasan mengapa potensi krisis ekonomi kali ini harus dicermati para pelaku usaha:

  1. Penyebab krisis - krisis ekonomi yang terdahulu secara general disebabkan oleh masalah likuiditas keuangan. Yang artinya, kebijakan fiskal dan moneter yang tepat dapat mengatasi akar permasalahan yang ada. Penyelesaiannya menjadi relatif straight forward dan terukur. Potensi krisis yang sedang dihadapi dunia saat ini disebabkan oleh sebuah pandemi. Selain belum adanya pengalaman mengatasi hal semacam ini, solusinya tidak lagi terletak hanya sebatas instrumen fiskal dan moneter semata namun menjadi lebih kompleks karena melibatkan scientist hingga extreme government regulation. Jangka waktu penyelesaiannya pun menjadi lebih sulit diprediksi.
  2. Mempelajari after impact dari krisis 2007-2010 serta solusi yang diambil pemerintah Amerika Serikat pada saat itu seperti program Quantitative Easing, telah membawa Pemerintah Amerika Serikat pada saat ini ke tahapan terbatasnya cash dan likuiditas aset. Kebijakan Quantitative Easing diambil pada saat itu salah satunya disebabkan oleh tidak bekerjanya lagi instrumen penurunan suku bunga acuan. Kendati the Fed Rate sudah menyentuh angka nol, masalah likuiditas pada saat itu tetap tidak dapat diatasi. Kini, dengan dipertanyakan efektifitas dan kemampuan menjalankan lagi kebijakan moneter lewat penurunan suku bunga acuan dan Quantitative Easing program, Amerika Serikat akan semakin sulit mencari solusi instrumen apa yang sekiranya dapat ditempuh untuk krisis yang berpotensi terjadi dalam waktu dekat. Krisis di Amerika Serikat akan berdampak besar pada Indonesia, sebagaimana yang dapat dilihat pada pasar saham dalam negeri. Pada Jumat, 20/3/2020 net sell asing di bursa saham mencapai IDR 175miliar dalam satu hari yang salah satunya disebabkan Amerika Serikat masih mengejar likuiditas dalam negeri mereka.
  3. Setelah kebijakan moneter dan fiskal dilakukan untuk menyelesaikan masalah likuiditas, masyarakat diharapkan untuk melakukan spending supaya roda perekonomian kembali berputar guna mendapatkan multiplier effect bagi perekonomian. Dalam krisis yang disebabkan oleh pandemi wabah virus, hal ini akan lebih kompleks. Sebab walaupun likuiditas sudah dimasukkan ke dalam sistem ekonomi, kegiatan arus barang dan manusia akan tetap tertahan bila masalah pandeminya belum teratasi khususnya bila status lockdown terjadi.

 

Melihat potensi di atas, pemilik bisnis perlu berpikir cermat dalam mencari jalan keluarnya. Dibutuhkan solusi yang matang khususnya dalam mempertimbangkan kapan keadaan menjadi lebih baik dan rebound akan terjadi. Ketika pendapatan tidak bisa dinaikkan maka solusi cerdas yang dapat diambil adalah mengurangi pengeluaran. Mengurangi pengeluaran yang paling mudah dilakukan dan tidak memberikan efek negatif terlalu besar bagi stakeholder adalah memotong biaya sewa kantor. Biaya sewa kantor adalah salah satu komponen terbesar dalam overheads yang secara pasti dan rutin menjadi beban usaha. 

 

Dengan banyaknya ketidakpastian dan sulitnya memperkirakan apa yang akan terjadi dalam bulan-bulan ke depan, maka Anda sebagai pelaku usaha perlu mempertimbangkan langkah-langkah konservatif. Salah satunya dengan mencari ruang kantor yang fleksibel dengan harga terjangkau. TwoSpaces menawarkan solusi yang dapat Anda pertimbangakan.

 

Selain harganya yang terjangkau dengan berbagai kepraktisan yang ditawarkan, TwoSpaces juga memiliki Enterprise Solution yang dapat membantu Anda menghadapi berbagai tantangan bisnis Anda termasuk menyesuaikan kebutuhan ruang kantor bisnis Anda apapun kebutuhannya. Mulai dari ruang kantor untuk tim besar Anda seluas 1 hingga 2 lantai ruko maupun tim kecil Anda untuk 1 hingga 2 orang namun tersebar di banyak titik, kami siap membantu Anda. Kami juga memiliki teknologi yang dapat memudahkan Anda mengontrol tim Anda dan menjalankan usaha Anda secara cost efficient.

 

Sustainability acap kali kita lupakan sebab dunia dan kompetitor lebih mengutamakan pertumbuhan  dan gengsi. Kadang kita tergoda dan mau tidak mau mengikutinya dengan dalih daya saing. Padahal keduanya tidak berujung pada sustainabilitas. Tanpa sustainabilitas, apa yang Anda bangun akan sia-sia. Sebaliknya, bisnis yang dibangun dengan asas keseimbangan dan usaha-usaha lain dalam mencapai sustainabilitas-lah yang akan membawa kita pada perusahaan yang mampu bertahan hingga ratusan tahun. Bisnis lebih menyerupai lomba lari maraton ketimbang lari 100m, yang dibutuhkan bukan hanya kecepatan dan pertumbuhan namun juga daya tahannya. 

 

Salam,

 

Redaksi TwoSpaces Group

-----

Referensi:

https://www.cnbc.com/2020/03/20/analyst-anticipates-worst-crisis-since-1929-amid-recession-fears.html

 

https://investor.id/market-and-corporate/sejam-perdagangan-net-sell-asing-rp-175-miliar