Covid-19 dan WFH

Istilah WFH mendadak tenar. Para pekerja profesional seolah-olah menjadi akrab dengan metode working from home. Akankah Covid-19 dapat memberikan pelajaran akan manisnya remote working di tengah kemacetan ibu kota Jakarta yang kian parah?

 

Pandemi Covid-19 “memaksa” banyak pekerja profesional di dunia untuk menjalankan metode bekerja jarak jauh. Untuk pertama kali, bekerja jarak jauh dilakukan secara massal. Tentu ada sisi positif dan juga negatifnya. Apalagi proses working from home ini dilakukan secara mendadak tanpa ada persiapan strategis baik secara organisasi maupun sistem perusahaan. Walaupun tidak berjalan sempurna, niscaya setiap perusahaan dan pekerjanya akan mampu beradaptasi dan nantinya dapat menemukan trik terbaik dalam menjalankan metode WFH.

 

Remote working atau metode bekerja jarak jauh sebenarnya bukan hal baru yang ramai diperbincangkan di berbagai belahan dunia. Dominasi kaum milenial yang menuntut lebih banyak soal work and life balance telah menempatkan metode bekerja jarak jauh sebagai sebuah kebutuhan daripada kemewahan. Namun implementasinya tak semudah itu khususnya dari sudut pandang perusahaan yang kerap melihat metode bekerja jarak jauh menuntut banyak perubahan pada pakem kerja. Perusahaan juga seakan merasa tidak memiliki kontrol pada karyawannya bila mereka tidak secara fisik dapat dilihat. Perusahaan masih punya bargaining power yang tinggi untuk memilih tidak memenuhi tuntutan bekerja jarak jauh.

 

Namun kini kondisinya menjadi berbeda. Wabah virus Covid-19 membuat Pemerintah di beberapa negara melakukan lockdown yang artinya membatasi secara ketat mobilitas manusia termasuk ke tempat kerja. Perusahaan pun tak punya lagi bargaining power, kali ini mereka harus mengikuti tuntutan keadaan untuk menjalankan metode bekerja jarak jauh alias WFH. 

 

Menurut sebuah artikel di Kompas, bekerja di rumah memiliki tantangannya sendiri. Beberapa tantangan bekerja dari rumah:

  1. Keterbatasan ruang kerja yang ideal di rumah. Kebanyakan rumah jaman sekarang memiliki ukuran yang kecil sebab harga lahan yang telah melambung tinggi 4-5 tahun  ke belakang. Belum lagi mereka yang tinggal di rumah kos ataupun apartemen studio. Bekerja di ruang yang sempit dan tidak nyaman, membuat kita sulit untuk konsentrasi. Belum lagi bila hunian tersebut diisi oleh banyak anggota keluarga. Bekerja di rumah pun menjadi sangat tidak nyaman.
  2. Alat kerja yang tidak memadai. Mengutip dari Kompas, Data Statistika Komunikasi 2018 menunjukkan bahwa akses internet baru dapat dinikmati 66% penduduk. Persoalannya pun tidak hanya sebatas akses namun juga sinyal dan kecepatan internet. Salah satu tantangan bekerja jarak jauh adalah tidak efektifnya komunikasi antar karyawan. Video call kerap menjadi salah satu solusi yang paling banyak dipilih perusahaan. Lemah dan lemotnya internet di rumah akan membuat solusi video call menjadi terhambat dan komunikasi pun menjadi semakin tidak efektif. 

 

Tantangan bekerja dari rumah bukan hanya dijumpai di Indonesia, namun dihadapi pula bahkan oleh pekerja profesional di negara maju sebut saja misalnya di Singapura. Dikutip dari artikel di Straits Time, setelah terjadinya penyebaran wabah virus Covid-19 di negara Singa tersebut, permintaan akan co-working space melonjak. Salah satunya disebabkan oleh kebutuhan perusahaan untuk melakukan split operations sebagai bentuk strategi business continuity planning dalam mengatasi merebaknya wabah virus Covid-19. 

 

Jauh sebelum merebaknya wabah virus Covid-19, TwoSpaces memiliki misi menghadirkan work and life balance yang lebih baik bagi stakeholder khususnya di JABODETABEK. TwoSpaces memiliki keprihatinan akan cara bekerja para profesional dan pelaku usaha yang harus bertarung menghadapi kemacetan tak berujung setiap harinya. Pertumbuhan ruang kantor di CBD Jakarta tak akan pernah sebanding dengan pembangunan transportasi massal yang akibatnya kemacetan tak akan pernah berakhir. TwoSpaces percaya yang seharusnya diubah adalah pola dan budaya kerja di mana metode kerja jarak jauh adalah hal mutlak yang harus dijalankan.

 

Dalam konsep pengembangannya, TwoSpaces selalu mendekatkan setiap cabang dengan area residential dan pemukiman penduduk. Tujuannya tak lain untuk mengakomodir kebutuhan ruang kerja di sekitar area residential tersebut sehingga tak perlu lagi menghabiskan waktu 2-4 jam sehari di jalan raya. TwoSpaces juga memiliki teknologi yang dapat mengatasi kekhawatiran pemilik usaha dan perusahaan atas kontrol karyawan yang bekerja jarak jauh. Teknologi digital attendance adalah solusi nyata yang dapat dinikmati perusahaan dan pemilik usaha bila berkantor di TwoSpaces. 

 

Selalu ada hal positif dalam setiap kondisi yang paling buruk sekalipun. Di tengah kondisi merebaknya wabah virus Covid-19, TwoSpaces tetap melayani SPACER (para member) dengan standar keamanan dan hygiene yang secara signifikan ditingkatkan. TwoSpaces juga melakukan tindakan pencegahan mulai dari menyediakan hand sanitizer, masker, hingga membersihkan ruangan dengan desinfektan secara rutin. Setiap cabang TwoSpaces berukuran 100-300 meter persegi saja yang terbilang private dan tidak kontak dengan banyak orang apalagi bila dibandingkan dengan coworking lain yang memiliki luas 1,000 meter persegi bahkan lebih. Lokasi cabang TwoSpaces juga mengusung konsep stand alone development berbeda dari coworking lain yang terletak di pusat keramaian seperti gedung perkantoran dan mall. TwoSpaces tetap setia melayani SPACER karena kami melihat kebutuhan yang begitu besar untuk membantu mereka yang dituntut menjalan WFH oleh perusahaannya. Kami tidak berkompromi dengan keselamatan dan proses pencegahan wabah virus Covid-19, namun kami juga tetap berkomitmen memberikan dukungan bagi stakeholder akan solusi atas tuntutan WFH. Semoga badai wabah virus Covid-19 cepat berlalu dan setelahnya perusahaan serta pemilik bisnis bisa belajar untuk menjalankan metode bekerja jarak jauh bukan karena tuntutan situasi namun demi kebaikan perusahaan dan karyawannya itu sendiri. 

 

Salam,

 

Redaksi TwoSpaces Group




-----

Referensi: 

 

https://bebas.kompas.id/baca/riset/2020/03/20/tantangan-bekerja-dari-rumah/?utm_source=external_kompascom&utm_medium=berita_terkini&utm_campaign=kompascom

 

https://www.straitstimes.com/business/more-demand-for-co-working-spaces-as-firms-split-operations